Amerika Niat Turunkan Harga Minyak, eh.. Malah dipercepat!

kabaris.com - Amerika Serikat (AS) berencana merilis Strategic Petroleum Reserve (SPR) pada pekan ini. Tujuannya untuk menurunkan harga minyak mentah yang tinggi.

Terlepas dari berita ini, harga minyak mentah meroket pekan lalu. West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 8% menjadi US$ 71,67/barel, menghentikan penurunan beruntun selama 7 minggu. Demikian pula minyak Brent naik 7,5% menjadi US$ 75,15/barel.




Departemen Energi AS akan menjual 18 juta barel minyak mentah dari (SPR) pada 17 Desember.


Penjualan tersebut merupakan langkah pertama dalam rencana untuk melepaskan 50 juta barel yang diumumkan Washington bulan lalu. Sisanya akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang melalui bursa, yang harus dikembalikan ke SPR dengan bunga.



AS merangkul negara konsumen lain seperti China, India, dan Korea Selatan. Ketiganya bukan anggota OPEC.


Merujuk data Energy Information Administration (EIA), AS dan kelompoknya memproduksi minyak mentah sebesar 15,76 juta barel per hari (Mb/d). Jumlah ini setara dengan 20,37% produksi dunia. Sementara OPEC memproduksi 28,87 Mb/d, setara dengan 37,32% produksi dunia.


Pertukaran pertama adalah dengan EXXon Mbil Corp, perusahaan minyak AS terbesar, dengan 4,8 juta barel, kata departemen itu.


"Ketika DOE bergerak maju dengan penjualan, permintaan pertukaran akan terus diterima dari pihak yang berkepentingan dan disetujui sebagaimana mestinya untuk mengatasi gangguan pasokan," kata departemen itu.


"Rilis (cadangan minyak) hanya akan memberikan perbaikan jangka pendek untuk defisit struktural dan akan menciptakan risiko kenaikan yang jelas untuk perkiraan harga 2022 kami," tulis Goldman Sachs.


Masalah yang lebih mendasar adalah bahwa investasi dalam produksi minyak terhambat oleh keprihatinan lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) dan kekhawatiran tentang pemanasan global.


Bank sebagai sumber pendanaan juga memberikan pinjaman dengan suku bunga minyak yang lebih tinggi daripada proyek energi hijau.


"Kerugian investor akibat ambruknya modal produsen minyak selama tujuh tahun terakhir kini diperparah dengan alokasi (dana) ESG," kata Goldman.


AS dan OPEC + sendiri memiliki "pertempuran" tentang peningkatan produksi. AS menilai OPEC+ dapat menekan harga minyak dunia dengan meningkatkan produksi,


OPEC+ tidak setuju dengan alasan bahwa volume produksi saat ini akan membuat pasar minyak mentah surplus tahun depan.


AS berkepentingan menurunkan harga bensin akibat melonjaknya harga minyak dunia. Harga bensin yang tinggi membuat inflasi AS sangat tinggi dan membuat perekonomian panas.


"Presiden dengan tepat percaya bahwa orang Amerika pantas mendapatkan bantuan sekarang dan telah mengizinkan penggunaan SPR untuk menanggapi ketidakseimbangan pasar dan mengurangi biaya bagi konsumen," kata Menteri Energi Jennifer Granholm.

0 Comments