Dolar Australia Melesat 2% Setelah Nyaris ke Bawah Rp 10.000

kabaris.com - Nilai tukar dolar Australia menguat terhadap rupiah setelah sempat terpuruk selama 5 minggu berturut-turut. Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang sebelumnya memicu ambruknya mata uang Negara Kanguru, berbalik menguat pada pekan ini.



Pukul 14:21 WIB, AU$1 setara dengan Rp 10.276,69, dolar Australia naik 0,17% di pasar spot, menurut data Refintiv. Jika dilihat sejauh minggu ini, dolar Australia naik sekitar 2%. Sedangkan jika dilihat sebelumnya dalam 5 minggu berturut-turut telah turun sebesar 6% dan hampir tembus ke bawah Rp. 10.000/AU$.


Runtuhnya dolar Australia selama 5 minggu berturut-turut terjadi karena RBA mengesampingkan kenaikan suku bunga tahun depan pada awal November.


"Data dan proyeksi terbaru tidak menjamin kenaikan suku bunga pada 2022. Dewan gubernur masih bersabar," kata Gubernur RBA Philip Lowe, saat pengumuman kebijakan moneter, seperti dilansir Reuters, Selasa (2/11).


Selain itu, dalam beberapa kesempatan Lowe selalu menyatakan bahwa suku bunga tidak akan dinaikkan hingga 2024.


Namun, dalam pengumuman rapat kebijakan moneter pekan ini, Lowe tidak menyatakan hal itu. RBA masih mempertahankan suku bunga di 0,1% yang merupakan rekor terendah dalam sejarah, dan hanya akan dinaikkan jika inflasi aktual tetap dalam kisaran 2% hingga 3%.


"Anggota dewan tidak akan menaikkan suku bunga sampai inflasi aktual berada dalam target 2% hingga 3%," kata Lowe.


Lowe tidak lagi menyebutkan "suku bunga tidak akan dinaikkan sebelum 2024" tetapi mengatakan "anggota dewan tidak akan menaikkan suku sampai inflasi aktual berada dalam target 2% hingga 3%", menandakan bahwa suku bunga bisa naik lebih cepat yang membuat dolar Australia putus-putus.


Untuk saat ini, pasar memperkirakan suku bunga akan dinaikkan pada 2023. Survei Reuters dilakukan pada 29 November hingga 2 Desember, dengan 35 ekonom.


Tak hanya sekali, RBA juga diprediksi akan agresif menaikkan suku bunga. Peningkatan selanjutnya diperkirakan terjadi pada triwulan II tahun 2023, sebesar 25 basis poin (0,25%) menjadi 0,5%, kemudian pada akhir tahun 2023 akan meningkat lagi sebesar 25 basis poin.

0 Comments