Kolesterol Tinggi! Terangkat Tinggi, Saham Mini Bank Dibanting

kabaris.com - Saham emiten mini bank dengan modal inti di bawah Rp 6 triliun cenderung melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (13/12/2021). Investor tampaknya mulai mengambil untung setelah saham berada dalam tren naik setidaknya sejak Senin (6/12) lalu.




Berikut penguatan saham mini bank, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.27 WIB.

  • Bank Victoria International (BVIC), saham -4,65%, menjadi Rp 246/saham

  • Bank Artha Graha Internasional (INPC), -4,52%, menjadi Rp 148/saham

  • Neo Commerce Bank (BBYB), -3,47%, menjadi Rp 2.500/saham

  • International MNC Bank (BABP), -3,36%, menjadi Rp 230/saham

  • Allo Bank Indonesia (BBHI), -2,86%, menjadi Rp 7.650/saham

  • Bank Oke Indonesia (DNAR), -2,79%, menjadi Rp348/saham

  • Bank Jago (ARTO), -2,54%, menjadi Rp 15.375/saham

  • Bank Bumi Arta (BNBA), -2,48%, menjadi Rp 4.320/saham

  • Bank Raya Indonesia (AGRO), -1,92%, menjadi Rp 2.040/saham

  • Bank Ina Perdana (BINA), -1,54%, menjadi Rp 3.840/saham

  • Bank IBK Indonesia (AGRS), -0,53%, menjadi Rp 189/saham

  • Bank Mestika Dharma (BBMD), -0,50%, menjadi Rp 2.000/saham


Saham BVIC memimpin penurunan, yakni minus 4,65%, di tengah aksi jual investor asing dengan nilai jual bersih Rp 1,28 miliar di pasar reguler.


Praktis, pelemahan ini mematahkan reli saham BVIC selama 6 hari berturut-turut. Meski sempat turun pagi ini, dalam sepekan saham BVIC masih naik 22,77% dan dalam sebulan melonjak tinggi 35,52%.


Bank Victoria sendiri sedang dalam proses penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD/private placement) dengan menerbitkan 948.979.590 (948,98 juta) saham baru dengan harga pelaksanaan Rp. 196/bagikan. Dana yang akan dihimpun Bank Victoria dalam private placement itu mencapai Rp 185,99 miliar.


Aksi korporasi tersebut dilakukan untuk memenuhi kewajiban permodalan minimal sebesar Rp2 triliun berdasarkan POJK No. 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.


Saham INPC juga anjlok 4,52% pagi ini. Dalam sepekan saham INPC masih naik 5,71%.


Dalam nada yang sama, saham BBYB dan BABP juga turun 3,47% dan 3,6% di tengah nilai transaksi yang besar. Saham BBYB diperdagangkan dengan nilai Rp 78 miliar, sedangkan BABP mencatatkan nilai transaksi Rp 14 miliar.


Narasi bank digital yang terus berkembang sejak awal tahun ini dan ketentuan regulasi mengenai pemenuhan modal minimum bank menjadi katalis utama melonjaknya saham minibank.


Memang tahun 2021 merupakan momentum yang menjanjikan bagi bank digital seiring dengan tren digitalisasi dan ramainya akuisisi sejumlah investor global untuk masuk ke bank digital.


Tak hanya investor perbankan, investor korporasi non bank, konglomerat hingga perusahaan start-up alias startup berlomba-lomba berinvestasi di bank digital.


Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan bank memiliki modal minimal Rp 2 triliun jika tidak ingin turun kasta menjadi BPR alias BPR.


Adapun untuk tahun 2022, modal minimum mencapai Rp3 triliun sebagaimana tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.


Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana menjelaskan, proses peningkatan modal inti bank-bank tersebut terus berlanjut.


Heru menambahkan, upaya peningkatan modal inti dilakukan perbankan dengan melakukan konsolidasi atau mencari mitra strategis. " kata Heru Kristiyana, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Kamis (25/11/2021).


Berdasarkan data CNBC Indonesia, setidaknya ada 13 bank yang saat ini belum memenuhi persyaratan modal minimum tersebut. Beberapa di antaranya adalah Bank Ina, Bank Ganesha, Bank Capital Indonesia, Bank MNC International, dan Bank Aladin Syariah.

0 Comments